Saturday, 23 January 2021 | Login

Latest News

Polsek Cipondoh Ungkap Kasus Pemerasan dan Pengeroyokan

Friday, 27 November 2020 00:00 Written by

KBR Kota Tangerang.

Operasi Sikat Jaya 2020, Polsek Cipondoh, Polres Metro Tangerang Kota mengungkap kasus pemerasan dan pengeroyokan, (27/11/2020).

Hal tersebut terungkap saat Polsek Cipondoh menggelar Konferensi Pers, dipimpin langsung Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Sugeng Hariyanto, didampingi Kasubaghumas, Kompol Abdul Rachim, Kapolsek Cipondoh AKP Maulana Mukarom dan Kanitreskrim. Kasus tersebut terjadi pada hari Minggu, 11 Oktober 2020, sekitar jam.02.30 Wib. di Kios Kelapa Muda, Jalan KH. Mas Mansyur, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Para Pelaku diketahui berinial BS Als DS, VCI Als CK, PY Als ZL dan RH Als KP. Sedangkan Korban bernama Daut Purwanto (30), tinggal di Kelurahan Sudimara Pinang. Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Sugeng Hariyanto mengungkapkan, Para Pelaku berhasil ditangkap saat Team Resmob Polsek Cipondoh melakukan Penyelidikan, terkait keberadaan DPO Pelaku Kasus pemerasan dan pengancaman yang terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2020 di Jalan Mas Mansyur, Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

"Hasil penyelidikan Team Resmob mendapatkan petunjuk keberadaan para DPO, yaitu tersangka An. Ck dan Ds yang berada didepan Alfa Mart Daerah Malimping, dan langsung diamankan," ungkapnya. Selanjutnya, kata Kapolres, saat diinterogasi terhadap keduanya keberadaan Tersangka lain a/n Zl dan Kp, berhasil diketahui namun saat akan dilakukan penangkapan terhadap kedua tersangka, Zl dan Kp melakukan perlawanan dengan menggunakan 2 (dua) buah golok.

"Karena membahayakan jiwa Petugas, Anggota kami melakukan tindakan tegas dan terukur untuk melumpuhkan ke duanya. Para Tersangka kemudian diamankan dan dibawa ke Polsek Cipondoh guna penyidikan lebih lanjut," terang Kapolres. Menurut pengakuan Tersangka, mereka melakukan pelarian di Daerah Malimping dan selalu berpindah - pindah tempat tinggal.

Untuk bertahan hidup, mereka mendapatkan uang dengan cara mengamen, sebelum akhirnya mereka ditangkap Team Resmob Polsek Cipondoh. Dari tangan para tersangka Polisi berhasil mengamankan 2 (dua) buah golok, 2 (dua) Buah Handphone dan 1 (satu) Unit Sepeda Motor Honda Revo.

"Atas perbuatanya mereka kami dijerat Pasal 368 KUHP atau Pasal 170 KUHP, dengan ancaman penjara 9 Tahun penjara," pungkas Kapolres. Dalam kesempatan tersebut Polsek Cipondoh juga merilis kasus pengeroyokan yang terjadi pada Minggu 15 November 2020, lalu TKP di Jalan Irigasi Sipon, Kelurahan Poris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh. Dengan para Tersangka AA Als KB, MS Als AG, NS Als NK dan HF Als IM.

Sedang Korban bernama Nina Kusuma (35) tinggal Kelurahan Poris Plawad Utara Cipondoh. Kejadian bermula saat 3 Orang Pemuda (korban) melintas di Jalan Irigasi Sipon menggunakan Sepeda Motor. Kemudian ada Kendaraan Sepeda motor yang di kendarai oleh Pelaku lalu mengikuti dan memepet Korban.

"Pelaku membacok Korban dengan menggunakan celurit, Korban terjatuh dari Sepeda Motor dan melarikan diri ke pemukiman Warga. Teman pelaku yang lainnya kembali mengejar Korban yang masih mengendarai Motor, yang mengakibatkan 2 Orang korban mengalami Luka sobek di bagian bahu, dan di bagian pinggul belakang," jelas Kapolres.

Selain itu pula para tersangka Polisi berhasil mengamankan barang bukti, 2 buah celurit, 1 buah stik golf, 2 buah sabit, 1 buah gergaji, 1 buah gancu, 1 buah Motor Revo Warna Merah B-6926-BVX dan 1 buah Handphone. Para pelaku dijerat Pasal 170 KUHP, dengan ancaman penjara 7 Tahun penjara.

Sebelum Pers Rilis, Kapolrestro Tangerang Kota, Kombes Pol. Sugeng Hariyanto, S,IK., M.Hum, meresmikan renovasi Gedung Mapolsek Cipondoh bersama Kapolsek dan Polres Jajaran.

Red KBR.

Gugatan Pengembang Atas atas Aksi Karantina Mandiri sebesar, 4.5 Milyar di Demo Warga

Monday, 29 June 2020 00:00 Written by

Kota Tangerang | Sidang Perkara Pengembang mengugugat warga Kompleks Mutiara Garuda Teluk Naga 3.5 Milyar di PN Tangerang lantaran menutup jalan akibat penyebaran Covid 19 dengan tujuan karantina Mandiri berlangsung di Pengadilan Negeri, Senin, 29/06/20.

Dalam Sidang kedua belah pihak hadir, di wakili penasehat Hukum masing -masing, putusan sidang memutuskan berdamai, mediasi waktu 30 hari di sampai tanggal 7/7/20 sidang kedua. Putusan Sidang selanjutnya menunggu hasil mediasi kedua belah pihak, baik di luar pengadilan maupun di PN disilahkan oleh hakim. Mediator PN Kota Tangerang Samsuddin, SH berharap koperatif kedua belah pihak.

Akar permasalahan menurut Zainuddin, warga menutup akses jalan pada tanggal 5 April 20 dan membuka 18 Juni 20, tanggal 3 Juni 20, Warga dan Forum RT/RW di gugat 3.5 Milyar, padahal menurutnya selama 27 tahun hak mereka warga belum pernah terpenuhi.

Kuasa Hukum tergugat Warga Gufroni, menambahkan hari ini hadir 4 warga yang tergugat memperjuangkan hak mereka, ada aksi warga di luar PN Tangerang. Intinya meminta pengembang mencabut gugatan dan beri keadilan pada warga komplek mutiara garuda, ujarnya

Popular News

KBR Kota Tangerang. Operasi Sikat Jaya 2020, Polsek Cipondoh, Polres…
DEPOK, Koran Buruh | Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR)…
KBR Kota Tangerang | Turidi Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang…
Jakarta | Kabar Pendiri dan Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi…

Karyawan PT. Mayora Tewas Gantung Diri di Gudang Matrial Pabrik

Saturday, 20 June 2020 00:00 Written by

KOTA TANGERANG.Koran Buruh.com - Rukmana (47) Karyawan PT Mayora Indah ditemukan tewas gantung diri di dalam Gudang Packing Material Candy, Jalan Industri Telesonic, Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Jatiuwung Kota Tangerang, Sabtu (20/6/2020).

Kanit Reskrim Polsek Jatiuwung, AKP Zazali Hariyono membenarkan adanya peristiwa tersebut.

"Iya, benar kejadian tadi pagi, korban di temukan gantung diri diatas rak gudang menggunakan kain selendang," terang Zazali saat dihubungi wartawan, Sabtu (20/6/2020).

Zazali menjelaskan, korban pertama kali ditemukan saksi Muhamad Sopyan (41) dan Iyan Ariansyah (21) saat pergantian sif malam ke sif pagi. "Untuk sementara belum mengetahui motif meninggalnya karyawan pabrik tersebut, masih dalam penyelidikan.

Dan korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dan diserahkan kepada keluarga," pungkasnya. ( Janri Ginting )

Jadi Tersangka, Jusuf Rizal : Itu Resiko Pemimpin LSM LIRA Yang Tegas

Wednesday, 03 June 2020 00:00 Written by

Jakarta | Kabar Pendiri dan Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), HM. Jusuf Rizal dijadikan tersangka oleh Poldasu terkait “kebijakan internal organisasi” kembali merebak setelah kelompok pelapor menyebarluaskan di media sosial. Kasus ini bergulir sudah sejak tahun 2016, namun karena tidak cukup bukti dalam proses pemeriksaan, HM. Jusuf Rizal sudah minta SP3, tapi pertengahan tahun 2017 tiba-tiba justru dijadikan tersangka.

Ketika diminta komentarnya oleh media, pria berdarah Madura-Batak itu mengatakan bahwa kasus penetapan dirinya sebagai tersangka sudah pertengahan tahun 2017. Itu merupakan resiko sebagai pemimpin LSM LIRA dengan Rekor Muri, ketika harus bertindak tegas dalam mengambil keputusan. Cuma aneh memang kebijakan internal organisasi, kok bisa diproses hukum.

“Kasus ini sebenarnya sederhana. Di LSM LIRA Dewan Pendiri itu memiliki kewenangan tertinggi. Saat Dewan Pendiri menerbitkan SK, namun ada kelemahan karena hanya ditandatangani salah satu Dewan Pendiri dari Lima Dewan Pendiri. Maka dalam rapat disepakati untuk merevisi SK dengan cara mencabut yang lama dan menerbitkan yang baru,” tegas HM. Jusuf Rizal.

Secara kronologis dipaparkan bahwa saat melakukan konsolidasi ke Sumut, menjawab pertanyaan wartawan, HM.Jusuf Rizal selaku Ketua Dewan Pendiri LSM LIRA menyebutkan SK 001 pengangkatan Olies Datau sebagai Presiden LSM LIRA Periode 2015-2020 ada kelemahan. Untuk itu SK tersebut akan dicabut guna direvisi dengan menerbitkan SK Baru yang ditandatangani semua Dewan Pendiri LSM LIRA.

Namun yang terjadi adalah Olis Datau, 31 Maret 2016 melaporkan HM.Jusuf Rizal ke Mabes Polri atas pelanggaran UU ITE mentransformasikan berita yang dianggapnya merugikan dirinya dengan bukti hasil pemuatan media cetak dan online di Sumut. Tapi karena tempat kejadian di Sumut, Mabes Polri kemudian melimpahkan berkas pengaduan ke Polda Sumut.

Dalam proses penyidikan setelah memanggil saksi-saksi termasuk Dewan Pendiri LSM LIRA, tidak ditemukan adanya pelanggaran hukum. Proses pencabutan SK untuk diperbaharui sudah sesuai mekanisme organisasi dan kewenangan Dewan Pendiri yang memiliki kewenangan tertinggi dalam organisasi.

Karena tidak ada yang salah dan penyidik tidak memiliki bukti pelanggaran, maka HM. Jusuf Rizal selaku terlapor meminta Poldasu segera menerbitkan SP3 (Surat Pemghentian Penyidikan Perkara). Namun kasusnya digantung oleh Poldasu hingga kemudian setelah tujuh bulan, pertengahan tahun 2017, Poldasu menetapkan HM. Jusuf Rizal jadi tersangka.

Atas penetapan tersebut, HM. Jusuf Rizal melawan dan menanyakan dasar penetapan dirinya jadi tersangka. Karena menurutnya ada yang tidak beres dalam proses penetapannya. Tidak jelas dasarnya tiba-tiba jadi tersangka? Untuk itu, selaku aktivis yang kritis, ia meminta dasar penetapan, sebab ada yang menurutnya janggal dan dipaksakan.

Pertama, lanjut pria yang juga Sekjen DPP MOI (Media Online Indonesia) itu, kebijakan menerbitkan dan mencabut SK itu urusan internal organisasi dan sesuai AD/ART tidak bisa dibawa ke ranah hukum. Kedua, Pelaporan 31 Maret 2016 adalah tentang SK yang dicabut untuk diperbaharui, tapi lucunya dasar penetapan tersangka adalah cuitan di Medsos Facebook (FB) Tanggal 2 April 2016.

Masalahnya pun berbeda. Yang dijadikan dasar penetapan karena kata “makar”. Dimana tanggal 1 April 2016 menjawab pertanyaan cuitan di FB yang meenanyakan, ”Apakah Olies Datau, masih menjadi Presiden LSM LIRA atau tidak?”. HM. Jusuf Rizal kemudian tanggal 2 April 2016 memberi jawaban, bahwa Olies Datau sudah diberhentikan oleh Dewan Pendiri sebagai Presiden LSM LIRA sejak 1 April 2016 dengan empat alasan.

Adapun empat alasan tersebut adalah : 1. Tidak mau menjalankan amanat Munas; 2. Melanggar konstitusi organisasi; 3. Memecah belah organisasi (Olies Datau membuat Ormas Perkumpulan Lira baru dengan logo, nama, atribut yg sama); dan 4. Makar terhadap organisasi (Memalsu tanda tangan dewan pendiri untuk membuat organisasi baru Lira seolah-olah itu hasil Munas).

Kata makar itulah yang dijadikan dasar penetapan tersangka. Tapi saat berdebat dengan penyidik, HM.Jusuf Rizal mengatakan hukum itu bukan keranjang sampah dan semau penyidik menetapkan tersangka seseorang. Masak laporan pelanggaran hukum 31 Maret 2016, tentang pencabutan SK, kenapa penetapan tersangka yang dijadikan bukti adalah bukti cuitan di FB tanggal 2 April 2016.

Penyidik pun menurut HM.Jusuf Rizal telah mengakui bahwa kasus pelaporan HM.Jusuf Rizal sangat sumir. Ada dugaan titipan dan intervensi hukum dari pihak tertentu agar HM. Jusuf Rizal dapat “Dijadikan tersangka” kemudian langsung “Ditangkap”.
Atas dasar bukti yang sumir itu kemudian disepakati agar segera diterbitkan SP3.

Tetapi hidup ini bukan sekedar benar dan salah. Ada ruang abu-abu dimana kepentingan terus berusaha bermain agar HM. Jusuf Rizal tetap bisa dipenjara. Penyidik pun tak bisa lagi komunikasi, padahal sudah menjanjikan dalam tiga hari setelah gelar perkara akan diterbitkan SP3. Namun hingga lebih dari dua minggu SP3 tidak kunjung terbit dari Poldasu.

Proses selanjutnya HM. Jusuf Rizal melakukan Pra Peradilan atas penetapan tersangka oleh Poldasu untuk mencari bukti-bukti lain yang dimiliki pelapor dan untuk memperoleh keadilan. Hasilnya Pra peradilan HM. Jusuf Rizal dikalahkan dan Poldasu menang.

Poldasu pun mengajukan berkas Perkara HM.Jusuf Rizal ke Kepengadilan Sumut. Namun Berkas Perkara dikembalikan ke Poldasu, karena jika yang dijadikan dasar penetapan HM.Jusuf Rizal menjadi tersangka adalah kata “Makar” sesuai tempat kejadian, maka proses hukum lanjutannya ada di Pengadilan Jakarta Timur.

“Saya sudah di BAP lagi oleh Penyidik Poldasu untuk menjelaskan, siapa Pendiri LSM LIRA itu dan kewenangannya. Kemudian menjelaskan kata “makar” yang dimaksud itu adalah untuk organisasi, bukan untuk negara. Kata makar sesuai kamus besar bahasa Indonesia juga identik dengan kata culas,” tegas Jusuf Rizal

Jusuf Rizal kepada media, juga menyebutkan sudah menerima surat tindak lanjut proses hukumnya dilimpahkan Poldasu ke Polda Metro. Sebagai terlapor yang dijadikan tersangka karena kata makar, ia ingin proses hukumnya segera masuk ke pengadilan agar dalam persidangan diketahui, mana yang benar dan salah. Setiap warga negara harus patuh pada hukum.

Ketika disinggung dirinya dijadikan tersangka kemudian diviralkan oleh kelompok Olies Datau selaku pelapor, Jusuf Rizal tidak merasa ada sesuatu yang luar biasa. Memang banyak yang konfirmasi atas penyebaran dirinya jadi tersangka. Namun setelah diberi penjelasan justru banyak sahabatnya yang bersimpati dan menilai pelapor tidak paham konstitusi organisasi.

Lanjut Jusuf Rizal Menjadi pemimpin itu memang penuh resiko. Sebagai aktivis, ia tahu resikonya, termasuk ancaman penjara maupun pembunuhan. Jadi seperti pepatah, Ia menyebutkan jika takut ombak jangan membuat rumah ditepi pantai.[Reed]