Tuesday, 17 September 2019 | Login
Foto | Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo/Net Foto | Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo/Net

Airlangga, Nahkoda Yang Masih Diinginkan Kader Golkar Featured

Jakarta - Wakil Ketua Umum PP Angkatan Muda Partai Golkar, Abdul Hafid As Baso mengatakan jelang Musyawarah Nasional Partai Golkar dukungan terhadap Airlangga Hartarto terus mengalir.

Menurut dia, selain dari DPD I dan DPD II Golkar, dukungan juga datang dari organisasi underbow dan sayap partai seperti AMPG, KPPG, Kosgoro 1957, MKGR dan yang lain.

"Mendulang banyak dukungan, Airlangga terus mengakumulasi potensi kemenangan di Munas Golkar," kata Hafid di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Ia mengutip sebuah adagium "pemimpin dialahirkan dari bawah". Kata dia, mungkin adagium ini dapat mewakili keberadaan Airlangga yang makin massif mendapat dukungan dari akar rumput partai.

"Ini menandakan arus bawah masih menginginkan dia kembali menahkodai Golkar. Tentu keinginan dan dukungan tersebut, sejalan dengan kemampuan manajerial dan leadership terukur yang dimiliki Airlangga selama memimpin Golkar," tutur Hafid.

Lebih lanjut, ia menerangkan, akumulasi dukungan juga dapat dibaca sebagai masifnya dukungan kader dari bawah, yang masih menginginkan menteri perindustrian kabinet Jokowi-JK ini kembali memimpin Golkar.

Tentu, kata dia, dukungan arus bawah ini, dapat juga dibaca sebagai apresiasi terhadap kinerja Airlangga dalam menata Golkar yang beruntun diterpa masalah demi masalah.

"Mulai dari masalah dinamika internal, hingga persoalan hukum yang menjerat beberapa elit Partai Golkar. Tak bisa dinafikan, deraan masalah demi masalah ini, ikut berpengaruh menggerus suara partai," ujar Hafid.

Hafid mencontohkan masalah internal yang terjadi di tubuh Golkar. Menurut dia, kondisi ini mengharuskan partai banyak terjebak ke soal-soal keorganisasian partai, dan masalah hukum yang menjerat elit partai secara eksternal menjadi perbincangan negatif publik, dan ikut menggerus elektabilitas partai.

"Mesin partai akhirnya terganggu dengan situasi yang sedemikian pelik," kata Hafid.

Kondisi ini, tambahnya, membutuhkan sosok pemimpin yang tenang, dan tidak reaktif. Sikap tenang dan elegan itulah, membuat Airlangga mampu menyerap masalah internal partai dan tak terjebak pada konflik dan faksi-faksi penyebabnya.

"Ini bisa kita lihat dari kemampuan dia dalam meredam dan mendinamisasi masalah partai, tanpa erupsi berlebihan dan menimbulkan riak ekstrenal yang mengharu biru," kata Hafid.

Hafid menyadari, masalah demi masalah sempat melanda Golkar dan menurutnya ini memiliki dampak pada kepengurusan berikutnya. Ada harga yang mesti ditanggung Golkar di Pemilu 2019. Baik terkait perolehan suara partai dan jatah kursi di Parlemen.

Namun, kaya dia, patut diapresiasi, dalam gelombang dinamika dan konflik yang begitu pelik, dalam rentang waktu yang pendek, Airlangga mampu membawa Golkar berselancar di tengah-tengah badai politik itu.

Peroleh kursi ke dua di parlemen pusat (DPR RI) setelah PDIP pada hasil Pemilu 2019, kata dia, adalah ekstra effort yang patut disyukuri. Karena dalam polarisasi politik aliran yang memfragmentasi pemilih dalam blok ekstrem agamis non agamis, ikut berdampak pada Golkar sebagai pendukung Jokowi-Ma’ruf yang dipandang sebagai outside Ijtima’ ulama.

Tentu, lanjutnya, pembelahan yang demikian, ikut menggerus suara Golkar di basis pemilih Islam yang ikut terfragmentasi dalam framing 212 dan Ijtima’ Ulama.

"Di tengah-tengah situasi itu, Airlangga mampu membawah partai lebih dinamis di tahun politik 2019. Ia mampu membuat Golkar berdinamika secara fleksibel sebagaimana langgamnya sebagai partai nasionalis," tutur Hafid.

"Berdiri di tengah-tengah, mengakomodasi yang kanan, tapi tidak menolak yang kiri dan sekuler. Sikap ini yang membuat Golkar tak begitu intens dimusuhi sebagaimana partai pendukung Jokowi-Ma’ruf lainnya yang berhadapan secara diametral dengan fragemntasi Ijtima ulama dan 212," tambahnya.

Menurut dia, sikap dan keunggulan Airlangga secara leadership sebagai nahkoda partai, menunjukkan levelnya di kancah kepemimpinan politik nasional.

"Ia patut diperhitungkan dalam deretan panjang pemimpin nasional. Dengan demikian, sangat wajar, bila di Golkar, ia diinginkan kembali mempimpin partai," kata Hafid.[red]

Read 42 times