"The INBISNIS Way": Mencermati Rahasia Budaya Kerja di Balik Melesatnya INBISNIS Group

"The INBISNIS Way": Mencermati Rahasia Budaya Kerja di Balik Melesatnya INBISNIS Group Featured

INBISNIS.ID, JAKARTA - Di tengah ketatnya persaingan dunia usaha modern, sebuah perusahaan tidak lagi hanya dinilai dari seberapa besar profit yang mereka hasilkan, melainkan dari fondasi nilai yang mereka pegang teguh.

Fondasi inilah yang membentuk karakter, dedikasi, serta kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan para mitra bisnis. Bagi INBISNIS, ekosistem bisnis yang bergerak dinamis mulai dari Agen Properti, Management, Development, Law Firm, Tour & Travel, hingga layanan Media Online, keberhasilan tersebut berakar pada sebuah budaya kerja unik yang dikenal sebagai "THE INBISNIS Way".

Bukan sekadar slogan pajangan di dinding kantor, "THE INBISNIS Way" adalah kompas moral dan operasional yang diakronimkan secara apik dari nama perusahaan itu sendiri: I-N-B-I-S-N-I-S. Budaya kerja inilah yang menyatukan ratusan talenta di dalamnya untuk bergerak dalam satu visi yang sama.

CEO INBISNIS, Rudi Sembiring Meliala, mengungkapkan bahwa kekuatan utama perusahaan terletak pada kedisiplinan mengejawantahkan nilai-nilai ini di setiap tindakan nyata.

"Budaya kerja bukan sekadar aturan tertulis, melainkan urat nadi dari setiap keputusan yang kita ambil. Di INBISNIS, kami percaya bahwa keberlanjutan bisnis sangat bergantung pada kepercayaan. Ketika setiap personel bergerak dengan landasan integritas dan tujuan yang mulia, kita tidak hanya sedang membangun sebuah bisnis, tetapi sedang membangun reputasi yang bernilai tinggi di mata masyarakat dan investor," tegas Rudi Sembiring Meliala.

Berikut adalah rincian lengkap dari Core Values I-N-B-I-S-N-I-S yang menjadi pilar utama dalam operasional harian perusahaan:

  • I - Integrity (Integritas) "Bicara jujur, bertindak benar." Penerapan: Berlaku mutlak bagi seluruh personel. Tidak ada toleransi untuk manipulasi dan/atau korupsi.
  • N - Noble Purpose (Tujuan Mulia) "Bekerja untuk memberi solusi, bukan sekadar mencari profit."
    Penerapan: Tiap divisi berpaku pada penanganan masalah yang bermakna bagi klien, tidak hanya semata mencari keuntungan perusahaan.
  • B - Brilliant Synergy (Sinergi Cemerlang) "Satu INBISNIS, Satu Kekuatan."
    Penerapan: Contoh: Divisi Media harus proaktif memajukan IdoTrip, dan Land Service harus mendukung pembangunan proyek 366Land. Tidak boleh ada ego sektoral.
  • I - Innovation (Inovasi) "Selalu ada cara yang lebih baik."
    Penerapan: Setiap Divisi harus terus memperbarui sistem, teknologinya dalam segala bidang, dan harus mengikuti tren terbaru.
  • S - Service Excellence (Pelayanan Prima) "Pelanggan adalah pusat dari segalanya."
    Penerapan: Senyum dan keramahan di setiap layanan yang dilaksanakan, ketepatan waktu serta service yang responsif.
  • N - Nimble (Lincah & Cepat) "Cepat beradaptasi, cepat mengeksekusi."
    Penerapan: Mengikuti Service Level Agreement (SLA) yang telah ditetapkan. Tidak menunda pekerjaan, terutama dalam pelayanan jasa terhadap klien.
  • I - Improvement (Perbaikan Berkelanjutan) "Hari ini harus lebih baik dari kemarin."
    Penerapan: Melakukan evaluasi rutin melalui rapat mingguan untuk peningkatan hasil dan kualitas layanan di setiap divisi.
  • S - Stewardship (Tanggung Jawab) "Setia, Disiplin, Sungguh-sungguh, mengelola aset perusahaan seperti milik sendiri."

Implementasi nyata dari kedelapan nilai ini tercermin dari bagaimana setiap unit bisnis di bawah bendera INBISNIS mampu berkolaborasi tanpa sekat ego sektoral, melahirkan eksekusi yang cepat, namun tetap mengutamakan kepuasan klien di atas segalanya.

General Manager INBISNIS, Prima Brahmana, menambahkan bahwa penyelarasan nilai ini menjadi kunci efisiensi dan ketangguhan perusahaan dalam menghadapi dinamisnya pasar.

"Kekuatan terbesar kami di level operasional adalah kelincahan dan sinergi. Melalui 'The INBISNIS Way', kami memangkas birokrasi internal yang tidak perlu sehingga setiap divisi, baik media maupun properti, bisa bergerak gesit atau nimble sesuai SLA yang disepakati. Evaluasi berkala yang kami lakukan memastikan bahwa kami selalu setingkat lebih baik setiap harinya, demi memberikan pelayanan prima yang berpusat penuh pada kebutuhan pelanggan," tambah Prima Brahmana.

Melalui komitmen kokoh terhadap "THE INBISNIS Way", INBISNIS membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis yang melesat dapat berjalan selaras dengan kontribusi nyata yang solutif bagi masyarakat luas.

(Redaksi)

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor pusat INBISNIS Group di Bali untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.

Read 195 times

Related items

  • Dialog Sosial Kunci Wujudkan Hubungan Industrial Harmonis di PT Indonesia Epson Industry

    KORANBURUH.COM, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menempatkan dialog sosial dalam membangun hubungan industrial yang harmonis saat memfasilitasi komunikasi antara manajemen PT Indonesia Epson Industry dan serikat pekerja agar setiap persoalan ketenagakerjaan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang terbuka dan berimbang. 

    Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan pemerintah hadir sebagai penengah yang membuka ruang komunikasi bagi seluruh pihak. Pendekatan itu diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan hak-hak pekerja, keberlangsungan usaha, dan kepastian iklim investasi.

    "Dialog sosial adalah kunci utama dalam mengurai setiap dinamika hubungan industrial. Pemerintah hadir untuk memfasilitasi ruang diskusi yang konstruktif dan sejuk agar hak-hak normatif para pekerja tetap terlindungi secara adil," ujar Afriansyah saat berdialog dengan Federasi Serikat Pekerja Global Indonesia (F-SPGI) PT Indonesia Epson Industry di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

    Menurut Afriansyah penyelesaian persoalan hubungan industrial di PT Indonesia Epson Industry ditempuh dengan mengedepankan musyawarah. Pendekatan tersebut dipilih agar setiap persoalan dapat dipahami secara menyeluruh sebelum diambil langkah yang sesuai.

    Proses itu diawali melalui audiensi dengan Federasi Serikat Pekerja Global Indonesia (F-SPGI). Dalam pertemuan tersebut, serikat pekerja menyampaikan sejumlah aspirasi, antara lain mengenai pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), dinamika organisasi serikat pekerja, serta penerapan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

    Setelah mendengarkan masukan dari serikat pekerja, Kemnaker memfasilitasi pertemuan yang mempertemukan perwakilan pekerja dan manajemen perusahaan. Forum tersebut menjadi wadah bagi kedua belah pihak untuk menyampaikan pandangan masing-masing sekaligus membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap berbagai isu yang berkembang.

    Dalam dialog itu, serikat pekerja menyampaikan pandangannya terkait prosedur dan lini masa pencatatan serikat pekerja. Sementara itu, pihak manajemen menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil didasarkan pada hasil evaluasi kinerja perusahaan (business review).

    Pembahasan juga mencakup tata kelola organisasi serikat pekerja agar tetap berjalan selaras dengan prinsip netralitas perusahaan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan industrial yang sehat, saling menghormati, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Melalui rangkaian dialog tersebut, Kemnaker memusatkan pembinaan pada peningkatan kualitas komunikasi antara pekerja dan manajemen, penguatan hubungan industrial yang berkelanjutan, serta pengawasan terhadap pelaksanaan norma ketenagakerjaan sesuai peraturan perundang-undangan.

    Afriansyah berharap komunikasi yang terus terbangun dapat melahirkan kesepahaman di antara pekerja dan manajemen. Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan akan lebih mudah dicapai apabila seluruh pihak mengedepankan dialog dan saling menghormati.

    "Dengan komunikasi yang terbuka dan saling menghargai, penyelesaian setiap persoalan diharapkan dapat ditempuh melalui solusi yang adil bagi semua pihak sekaligus mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan," pungkas Afriansyah.

    Sumber :Biro Humas Kemnaker

    (Redaksi)

     

  • Regulasi Bertambah, Implementasi Kebijakan Masih Jadi Persoalan Utama

    KORANBURUH.COM.COM, JAKARTA – Upaya Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah masih menghadapi tantangan besar, salah satu persoalan utama adalah efektivitas regulasi dan implementasi kebijakan investasi.

    Pandangan tersebut disampaikan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Eko Prasojo, dalam Seminar Kamar Hukum Korporasi dan Investasi pada Rapat Kerja Nasional Peradi SAI, Jumat (8/5/2026) di Jakarta.

    "Secara ringkas memang sesuai dengan RPJPN kita 2025-2045, kita harus lepas dari Middle Income Trap. Tapi ambisi ini sebenarnya berhadapan dengan enam persoalan utama dalam tata kelola sektor publik yang persisten ada di Indonesia, dan ini tidak mudah,” ujarnya yang dilansir hukumonline.com, Senin (11/5/2026) lalu.

    Menurut Prof. Eko, salah satu hambatan terbesar ialah over-regulation, yaitu banyaknya regulasi yang belum harmonis antar kementerian sehingga memperlemah kepastian usaha dan efektivitas implementasi kebijakan.

    Selain regulasi yang tumpang tindih, praktik korupsi dalam perizinan serta premanisme masih menjadi beban dunia usaha. Survei internasional bahkan menunjukkan 33 persen perusahaan memperkirakan adanya praktik suap.

    "Jadi, kalau perusahaan kalau berinteraksi dengan Indonesia itu 33 persen berekspektasi akan membayar suap untuk mendapatkan kontrak publik. Kemudian, kita juga menghadapi apa yang disebut dengan premanisme. Jadi ekstraksi informal yang membebani operasional usaha itu dianggap sebagai mungkin pajak ya, pajak informal," ujarnya.

    Implementasi Kebijakan Dinilai Lebih Penting daripada Menambah Regulasi

    Ketua Umum HKHSK, Kukuh Komandoko Hadiwidjojo, menilai persoalan terbesar investasi bukan terletak pada jumlah regulasi, melainkan perbedaan implementasi antara pemerintah pusat dan daerah.

    "Ini benar-benar terjadi, sampai kadang-kadang investor asing itu sampai ngomong 'Kukuh, is your country did this on purpose?' Dia sampai nanya begitu. Pusat ngomongnya A nanti begitu balik ke daerah sudah A aksen, A double aksen, tahu-tahu tiba-tiba dia sudah Z triple aksen,” ujarnya.

    Ia menegaskan Indonesia sebenarnya memiliki regulasi investasi yang cukup lengkap. Namun kepastian hukum sulit terwujud apabila desain kebijakan tidak berjalan selaras dengan pelaksanaannya di lapangan.

    Kukuh mencontohkan tarik-menarik kewenangan antara BKPM dan OJK terkait pengaturan investasi tidak langsung di perusahaan terbuka yang sempat memunculkan kebingungan bagi investor.

    "Berdasarkan pengalaman empiris saya, ini letaknya adalah desain sama eksekusi, implementasinya. Aturannya sudah benar ngomongnya. Jadi utamanya bukan jumlah regulasi hanya pada desain dan eksekusi,” imbuhnya.

    Ke depan, reformasi investasi dinilai harus berfokus pada penguatan institusi, konsistensi implementasi, dan kepastian hukum agar Indonesia semakin kompetitif dalam menarik investasi berkualitas dari dalam maupun luar negeri.

    (Redaksi)

  • Perubahan Kebijakan Dorong Kepercayaan Investor, Iklim Investasi Indonesia Makin Kompetitif

    KORANBURUH.COM, JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat iklim investasi melalui penyempurnaan regulasi perizinan berusaha sepanjang 2026. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kepastian hukum, mempercepat layanan, sekaligus menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing.

    Indonesia menerapkan penyesuaian sistem Online Single Submission (OSS) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Langkah ini dilakukan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk menyederhanakan perizinan berbasis risiko.

    Melalui pembaruan OSS, pemerintah mengintegrasikan berbagai layanan perizinan, memperbaiki klasifikasi usaha, serta meningkatkan transparansi proses investasi. Reformasi tersebut diharapkan memangkas birokrasi dan mempercepat realisasi proyek strategis nasional.

    Hingga Triwulan I 2026, realisasi investasi nasional mencapai Rp498,8 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut setara sekitar 24,4 persen dari target investasi nasional tahun 2026.

    Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan saat konferensi pers di Jakarta, 23 April 2026, "Pertumbuhan investasi sebesar 7,2 persen pada triwulan pertama menunjukkan bahwa minat investor, baik domestik maupun asing, tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global."

    Menurut pemerintah, perubahan kebijakan tidak hanya mempercepat penerbitan izin usaha, tetapi juga memberikan kepastian bagi investor melalui standar pelayanan yang lebih sederhana, terukur, dan berbasis risiko.

    Penyempurnaan regulasi turut mendukung pengembangan sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, energi terbarukan, ekonomi digital, hingga kawasan industri yang menjadi prioritas investasi pemerintah selama 2026.

    Pelaku usaha menilai konsistensi implementasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting. Kepastian hukum dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor dalam merealisasikan proyek jangka panjang.

    Selain menyederhanakan perizinan, pemerintah juga memperkuat pengawasan pelaksanaan investasi melalui digitalisasi layanan OSS sehingga proses pemantauan proyek menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel.

    Perubahan kebijakan investasi diharapkan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, membuka lapangan kerja baru, memperkuat daya saing Indonesia, serta meningkatkan minat investasi berkelanjutan di berbagai sektor strategis sepanjang 2026.

     

    (Redaksi)

    Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor pusat INBISNIS Group di Bali untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.